Tata
cara Makan dalam Islam *!*
9 Maret 2012 pukul 13:24
Bismillahirrahmanirrahiim..
1.Tidak berlebihan (isyraf) dalam
mengkonsumsi dan tidak memubazirkannya. Berlebihan merupakan budaya yang tidak
disukai Allah. Sebagaimana yang disinggung dalam Alquran, yang artinya:
“ Dan Janganlah kamu sekalian
berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang
berlebih-lebihan.“(QS. Al-An’am/6:141)
Dan Mubazir adalah perbuatan yang
sangat dilarang dalam islam, bahkan diidentikkan sebagai saudara setan.
Sebagaimana firman Allah yang Artinya : Dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu
adalah saudara-saudara syaitan. (QS: Al-Isra/17:26-27)
Kalau kita dilarang berlebihan, maka
seharusnya pula kita makan dan minum menurut kadar cukup. Rasulullah
mengisyaratkan dalam sebuah sabdanya: ‘’ Tidak ada suatu tempat yang
dipenuhi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak
Adam itu beberapa suap makanan saja, asal dapat menegakkan tulang rusuknya.
Tetapi bila ia terpaksa melakukannya, maka hendaklah sepertiga ( dari perutnya
itu) diisi dengan makanan, sepertiganya dengan minuman dan sepertiganya lagi
dengan nafasnya (udara, dikosongkan)” (HR. Imam Ahmad dan Turmudzi).
Batasan yang diajarkan oleh Rasul
ini menekankan pentingnya seorang muslim agar memperhatikan orang di
sekitarnya, artinya kita harus memahami realitas sosial yang ada di lingkungan
kita, agar tidak terjadi kecemburuan sosial. Dalam sebuah sabda lain Rasul
mengancam kepada seorang yang hanya mementingkan dirinya sendiri dalam masalah
makanan sebagai orang yang bukan golongannya, yaitu: “barangsiapa makan
sampai kenyang, sementara tetangganya merintih kelaparan, maka ia bukan
termasuk golonganku”.
3. Memulainya dengan membaca “basmalah”
serta doa. Hal ini merupakan manifestasi ibadah dalam bentuk yang paling
minimal. Sebab bila tidak menyebut nama Allah, setan niscaya akan turut makan
bersamanya, dan dengan demikian hilanglah nilai ibadahnya. Lantas apa bedanya
dengan orang kafir? Dalam sebuah hadis Nabi disebutkan:
Dan dari Jabir berkata: saya telah
mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang masuk dalam rumahnya
dengan mengucapkan “bismillah” ketika masuk dan ketika hendak makan, maka setan
berkata kepada temannya: ‘tiada tempat tinggal dan tiada bagian makanan bagimu
disini’. Sedangkan bila orang itu masuk tanpa menyebut nama Allah, maka setan
akan berkata:’Kamu dapat bermalamdi rumah ini’. Kemudian jika waktu makan tidak
menyebut nama Allah, setanpun berkata: ‘kamu dapat bermalam dan makan disini’.” (HR.Muslim).
Jika lupa di awal makan, maka
ucapkanlah segera saat teringat. Rasulullah SAW telah bersabda, sebagaimana
yang diriwayatkan dari Aisyah r.a, sebagai berikut: “Bila salah seorang
diantara kamu hendak makan maka ucapkanlah “bismillah”, namun bila ia lupa di
awalnya, maka ucapkanlah ‘bismillahi awwaluhu wa akhiruhu’(dengan nama Allah
dari mula hingga akhir). (HR. Turmidzi)
3. Tidak boleh mencela makanan. Apa
pun yang dihidangkan di depan mata kita, makanan merupakan rezeki dari Allah.
Dari Abu Hurairah, ia berkata: ”Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan
selamanya. Jika beliau suka dimakannya, dan jika tidak suka ditinggalkannya”.(HR
Bukhari dan Muslim)
4. Menggunakan tangan kanan, tidak
dengan tangan kiri. Karena, makan dan minum dengan tangan kiri merupakan cermin
dari perbuatan setan yang harus dihindari oleh setiap mukmin yang memiliki
komitmen kepada Ilahi, hal ini seiring dengan maksud sebuah hadis: “Apabila
seseorang dari kamu makan, maka hendaklah ia makan dengan tangan kanannya, dan
apabila ia minum, maka minumlah dengan tangan kanan. Karena sesungguhnya setan
makan dengan tangan kirinya’. (HR. Imam Muslim)
Allah SWT menghubungkan dengan
perilaku makan dengan larangan mengikuti setan secara tegas dalam ayat Al
Qur’an yang Artinya : “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik
dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah
syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”.(QS:2:168)
Pengertian langkah langkah setan
yang dimaksud ayat ini antara lain adalah mengkonsumsi makanan yang tidak halal
dan dengan menggunakan tangan kiri.
5. Sambil duduk, dan tidak berdiri.
Hal ini seiring dengan hadis Nabi: Dari Qatadah, dari Anas dari Rasulullah
SAW, bahwa sesungguhnya Nabi SAW telah melarang orang minum sambil berdiri”.
Lalu Qatadah bertanya kepada Anas: Kalau makan bagaimana? Ia pun menjawab: “Hal
itu (makan dengan cara berdiri) lebih busuk dan jahat”. (HR. Ahmad, Muslim
dan Turmidzi)
6. Jika makan bersama sama, ambillah
dari yang dekat dekat saja, sejauh yang dapat di jangkau oleh tangan.
Sebagaimana sabda Rasulullah berikut: Dari Umar bin Abi Salamah berkata,
ketika saya masih kecil di bawah asuhan Rasulullah SAW, aku bisa menjulurkan
tanganku ke tempat makanan, maka Rasulullah SAW bersabda: “Wahai ananda,
ucapkanlah ‘bismillah’, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari
apa yang dekat kepadamu”. (HR.Muslim)
Dalam hadis lain juga dikatakan,
“Sesungguhnya termasuk pemborosan (perbuatan yang berlebihan dan dimurkai
Allah) bila kamu makan apa saja yang kamu (bernafsu) ingin memakannya”.
(HR. Ibnu Majah)
7. Tenang, perlahan dan tidak
terburu buru. Jangan bersikap rakus sehingga tampak mulut penuh dengan suapan,
dan jangan meniup-niup makanan atau minuman yang menunjukkan sikap tidak sabar.
Dari Ibnu Abas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian minum
dengan sekali tegukan seperti minumnya unta, tetapi minumlah dengan dua atau
tiga kali tegukan. Ucapkanlah ‘bismillah’ jika kalian minum dan ‘alhamdulillah’
jika kalian selesai minum”. (HR. Turmidzi).
Dalam hadis lain disebutkan: “Dari
Abi Qatadah RA, sesungguhnya Nabi SAW telah melarang bernafas dalam air
minumannya “.(HR.Muttafaqun ALaihi)
8. Mengambil secukupnya sehingga
dapat di konsumsi habis, jangan tersisa sedikit pun, walau hanya berupa sebutir
nasi yang menempel di jari tangan umpamanya, karena hal itu menjadi bentuk
pemubaziran yang dilarang. Dari Jabir katanya, Rasulullah SAW menyuruh
membersihkan sisa makanan yang di piring maupun yang di jari seraya bersabda:
“Sesungguhnya kalian tiada mengetahui di bagian manakah makananmu yang
mengandung berkah”.(HR. Muslim)
9. Haram menggunakan perabotan dari
emas dan perak. Rasul pernah melarangnya dengan sabdanya: “Dari Hudzaifah,
ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang kami minum dan makan dengan
perkakas dari emas dan perak. Beliau juga melarang kami (kaum lelaki)
berpakaian sutera dan yang dibordir dengan benang sutera dengan sabdanya: “Itu
adalah untuk kaum musyrikin didunia dan untuk kalian (nanti, insya Allah) di
akhirat”. (HR. Bukhari dan Muslim)
10. Mengakhiri makan dan minum
dengan berdoa sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas rezeki yang telah
dikaruniakan, sehingga badan menjadi sehat, dan dapat melakukan ibadah ibadah
lainnya yang telah Allah amanah kan.
Doa singkat yang kita baca
sebagaimana Rasulullah sabda kan: “Alhamdulillaahilladzi att’amanaa
wasaqaanaa waja’alana minal muslimiin” yang artinya: “Segala puji bagi
Allah yang telah memberikan kami makan dan minum, serta menjadikan kami sebagai
orang muslim”(HR. Imam Ahmad)
Demikian beberapa panduan , tata
caradan budaya makan dan minum yang dicontohkan dan diajarkan oleh nabi
Muhammad SAW. Totalitas ketaatan dan kepatuhan terhadap ajaran yang disandarkan
pada prinsip wahyu akan sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan di dunia dan
keindahan diakhirat kelak..
Semoga cukup dapat menjawab beberapa
pertanyaan, drpd bagaimana islam mengatur pola dan cara makan kita.
No comments:
Post a Comment