TUGAS
KIMIA
LAJU
REAKSI
NAMA: FITRIATUS SHOLIKHA
A Pengertian Laju Reaksi Kimia
Laju reaksi adalah laju penurunan reaktan (pereaksi) atau laju
bertambahnya produk (hasil reaksi). Laju reaksi ini juga menggambarkan cepat
lambatnya suatu reaksi kimia, sedangkan reaksi kimia merupakan proses mengubah
suatu zat (pereaksi) menjadi zat baru yang disebut sebagai produk. Reaksi kimia
digambarkan seperti pada bagan berikut.
Beberapa reaksi kimia ada yang
berlangsung cepat. Natrium yang dimasukkan ke dalam air akan menunjukkan reaksi
hebat dan sangat cepat, begitu pula dengan petasan dan kembang api yang
disulut. Bensin akan terbakar lebih cepat daripada minyak tanah. Namun, ada
pula reaksi yang berjalan lambat.
1.1Molaritas sesebagai Satuan konsentrasi dalam Laju
Reaksi Molaritas menyatakan jumlah mol zat dalam 1 L
larutan, sehingga molaritas yang dinotasikan dengan M, dan dirumuskan sebagai
berikut.
M = n/V
Keterangan :
n = jumlah mol dalam satuan mol atau
mmol
V = volume dalam satuan L atau mL
Bagaimana cara menggunakan dan
menghitung molaritas? Kalian akan mengetahuinya dari contoh-contoh soal
berikut.
Contoh Soal Molaritas (1) :
Sebanyak 17,1 g sukrosa (Mr = 342)
dilarutkan dalam air hingga volume larutan 500 mL. Tentukan kemolaran sukrosa.
Penyelesaian:
Diketahui :
Mr sukrosa = 342
Massa (m) sukrosa = 17,1 g
Volume larutan = 500 mL
Ditanyakan :
Molaritas sukrosa.
Jawaban :
n sukrosa = massa/Mr = 171/342
= 0,05 mol = 50 mmol
M sukrosa = n/V = 50 mmol / 500 mL
= 0,1 M
Jadi, molaritas sukrosa tersebut
adalah 0,1 M.
Contoh Soal Molaritas (2) :
Berapa gram soda kue (NaHCO3)
yang diperlukan untuk membuat 150 mL larutan NaHCO3 0,5 M?
(Ar Na = 23, H = 1, C = 12, 0 = 16)
Pembahasan :
Diketahui :
Molaritas NaHCO3 =
0,5 M= 0,5 mol/L
Volume larutan = 150 mL = 0,15 L
Ditanyakan :
Massa NaHCO3 ?
Jawaban :
n =M xV = 0,5 mol/L x 0,15 L = 0,075
mol
massa = mol x Mr = 0,075 x 84 = 6,3
g
Jadi, massa soda kue tersebut adalah
6,3 g.
Pembuatan suatu larutan dapat juga
dilakukan dengan mengencerkan larutan yang sudah ada, dengan catatan molaritas
larutan yang akan dibuat lebih rendah dari molaritas larutan yang sudah ada.
Misalnya di laboratorium hanya ada larutan HCl 1 M, sedangkan kita memerlukan
larutan HCl 0,5 M sebanyak 100 mL, bagaimana kita mendapatkannya?
Pada gambar 1 (a) :
sebelum pengenceran
V = V1
M = M1
n = n1
Pada gambar 1 (a) :
sebelum pengenceran
V = V2
M = M2
n = n2
Dalam pengenceran, jumlah zat
terlarut tidak berubah sehingga jumlah molnya tetap. Jadi, n1 =
n2 atau M1 x V1 = M2 x V2. Rumus
ini biasa disebut sebagai rumus pengenceran.
Dari gambaran cara tcrsebut, maka
larutan HC1 0,5 M sebanyak 100 mL dapat dibuat dengan mengencerkan larutan HC1
1M. Volume HC1 1 M yang dibutuhkan dicari melalui rumus pengenceran.
V1 x M1 = V2
x M2
V1 x 1 = 100 x 0,5
V1 = 50 mL
Jadi, kita bisa mclakukannya dengan
mengambil 50 mL HC1 1M, kemudian kin masukkan ke dalam labu ukur 100 mL lalu
ditambahi air hingga tanda batas, dan 100 ml Larutan HCl 0,5 M telah selesai
dibuat.
Apabila yang tersedia di
laboratorium hanya larutan pekat yang diketahui massa jenis dan kadarnya tanpa
diketahui konsentrasinya, misalnya larutan asam sulfat dengan kadar 97% dan
massa jenisnya 1,8 kg/L, maka molaritas H2SO4 tersebut
dapat ditentukan dengan rumusan berikut.
Untuk menghitung molaritas
larutan H2SO4 dengan kadar 97% dan massa jenis 1,8 kg/L, kita
tinggal memasukkan data ke dalam rumus hingga diperoleh molaritas asam sulfat
tersebut sebesar 17,82 M seperti pada perhitungan berikut.
1.2 Rumus Laju Reaksi
Laju reaksi kimia bukan hanya sebuah
teori, namun dapat dirumuskan secara matematis untuk memudahkan pembelajaran.
Pada reaksi kimia: A → B, maka laju berubahnya zat A menjadi zat B
ditentukan dari jumlah zat A yang bereaksi atau jumlah zat B yang terbentuk per
satuan waktu. Pada saat pereaksi (A) berkurang, hasil reaksi (B) akan
bertambah. Perhatikan diagram perubahan konsentrasi pereaksi dan hasil reaksi
pada Gambar 3.
Berdasarkan gambar tersebut, maka
rumusan laju reaksi dapat kita definisikan sebagai:
a. berkurangnya jumlah pereaksi
(konsentrasi pereaksi) per satuan waktu, atau :
, dengan r = laju reaksi, - d[R] = berkurangnya reaktan
(pereaksi), dan dt = perubahan waktu. Untuk reaksi : A → B, laju
berkurangnya zat A adalah :
b. bertambahnya jumlah produk
(konsentrasi produk) per satuan waktu, atau :
, dengan +Δ[P] = bertambahnya konsentrasi produk (hasil
reaksi). Untuk reaksi : A → B, laju bertambahnya zat B adalah :
.
Bagaimana untuk reaksi yang lebih
kompleks, semisal : pA + qB → rC.
Untuk reaksi demikian, maka :
Dalam perbandingan tersebut, tanda +
atau – tidak perlu dituliskan karena hanya menunjukkan sifat perubahan
konsentrasi. Oleh karena harga dt masing-masing sama, maka perbandingan laju
reaksi sesuai dengan perbandingan konsentrasi. Di sisi lain, konsentrasi
berbanding lurus dengan mol serta berbanding lurus pula dengan koefisien
reaksi, sehingga perbandingan laju reaksi sesuai dengan perbandingan koefisien
reaksi. Perbandingan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut.
rA : rB : rC = p : q : r
Perhatikan contoh soal berikut.
Contoh Soal Laju Reaksi (3) :
Pada reaksi pembentukan gas SO3 menurut
reaksi: 2SO2(g) + O2(g) → 2SO3(g), sehingga
diperoleh data sebagai berikut.
|
No.
|
[SO3] mol/L
|
Waktu (s)
|
|
1
|
0,00
|
0
|
|
2
|
0,25
|
20
|
|
3
|
0,50
|
40
|
Tentukanlah:
a. Laju bertambahnya SO3
b. Laju berkurangnya SO2
c. Laju berkurangnya O2
Penyelesaian :
Diketahui :
Persamaan reaksi : 2SO2(g) + O2(g) → 2SO3(g)
Data konsentrasi (pada tabel).
Ditanyakan :
a. r SO3.
b. r SO2.
c. r O2.
Jawaban :
a. Δ[SO3] = [SO3]3
– [SO3]2 = 0,50 – 0,25 = 0,25 M
Δt = t3 – t2 = 40
– 20 = 20 s
r SO3 =
=
= 0,0125
M/s
Jadi, laju bertambahnya SO3 sebesar 1,25 x 10–2
M/s.
b. Karena koefisien SO2 = koefisien SO3, maka:
r SO2 = – r SO3
= – 0,0125 M/s
jadi, laju berkurangnya SO2 sebesar –1,25 x 10–2 M/s
c. r O2 = - ½
x r SO3 = - ½ x 0,0125 = - 0,00625 M/s
Jadi, laju berkurangnya O2 sebesar – 6,25 x 10–3 M/s
Setelah kalian mempelajari apa itu
laju reaksi dan bagaimana menentukan besarnya laju reaksi zat dalam persamaan
reaksi, maka dapat kalian simpulkan bagaimana cepat lambatnya suatu reaksi
kimia berdasarkan laju reaksi zat tersebut. Jika laju reaksi zat itu besar,
maka reaksi berlangsung cepat, dan sebaliknya, jika laju reaksi zat kecil, maka
reaksi berlangsung lambat. Nah, sebenarnya apa yang mempengaruhi cepat
lambatnya laju reaksi kimia? Berikut ini akan kalian pelajari faktor-faktor
yang mempengaruhi laju reaksi, termasuk di dalamnya teori tumbukan.
B Faktor-Faktor yang mempengaruhi Laju Reaksi
Laju reaksi suatu reaksi kimia dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu konsentrasi pereaksi, luas permukaan zat yang bereaksi, suhu pada saat
reaksi kimia terjadi, dan ada tidaknya katalis. Sehubungan dengan proses reaksi
kimia, maka ada satu hal penting yang harus dipelajari untuk menentukan
berjalan tidaknya sebuah reaksi kimia, yakni tumbukan. Suatu reaksi kimia dapat
terjadi bila ada tumbukan antara molekul zat-zat yang bereaksi. Apakah setiap
tumbukan pasti menyebabkan berlangsungnya reaksi kimia? Akan kita ketahui
jawabannya dengan mempelajari teori tumbukan dahulu sebelum melangkah pada
pembahasan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.
|
Gambar 4. Konsentrasi reaktan sangat berpengaruh
pada laju reaksi seng dengan asam sulfat. Laju reaksi lambat dalam larutan
berkonsentrasi rendah (kiri) dan cepat dalam larutan berkonsentrasi tinggi.
|
2.1. Tumbukan sebagai Syarat Berlangsungnya
Reaksi Kimia
Tumbukan yang menghasilkan reaksi hanyalah tumbukan yang efektif. Tumbukan
efektif harus memenuhi dua syarat, yaitu posisinya tepat dan energinya cukup.
Bagaimanakah posisi tumbukan yang efektif? Dalam wadahnya, molekul-molekul
pereaksi selalu bergerak ke segala arah dan sangat mungkin bertumbukan satu
sama lain. Baik dengan molekul yang sama maupun dengan molekul berbeda.
Tumbukan tersebut dapat memutuskan ikatan dalam molekul pereaksi dan kemudian
membentuk ikatan baru yang menghasilkan molekul hasil reaksi. Contoh tumbukan
antarmolekul yang sama terjadi pada pereaksi hidrogen iodida berikut.
HI(g) + HI(g) → H2(g)
+ I2(g)
Secara umum, dituliskan:
AB + AB → A2 + B2
Tumbukan yang efektif terjadi bila keadaan molekul sedemikian rupa sehingga
antara A dan B saling bertabrakan (Gambar 5(a)). Jika yang bertabrakan adalah
atom yang sama, yaitu antara A dan A (Gambar 5(b)) atau atom A dan B namun
hanya bersenggolan saja (Gambar 5(c)), maka tumbukan tersebut merupakan
tumbukan yang tidak efektif.
|
Gambar
5. (a) tumbukan yang efektif karena posisi tumbukan tepat, (b) tumbukan
tidak efektif karena molekul yang bertabrakan sama (c) tumbukan tidak efektif
karena posisinya tidak tepat.
|
Selanjutnya apa yang dimaksud energi
tumbukan harus cukup? Jika kalian melemparkan batu pada kaca dan kacanya tidak
pecah, berarti energi kinetik batu tidak cukup untuk memecahkan kaca. Demikian
juga tumbukan antarmolekul pereaksi, meskipun sudah terjadi tumbukan dengan
posisi tepat, namun apabila energinya kurang, maka reaksi tidak akan terjadi.
Dalam hal ini diperlukan energi minimum tertentu yang harus dipunyai
molekul-molekul pereaksi untuk dapat menghasilkan reaksi.
Energi tersebut dinamakan energi aktivasi atau energi pengaktifan (Ea).
Perhatikan Gambar 6. tentang
tumbukan dengan energi yang cukup dan tidak cukup.
|
Gambar
6. (a) energi cukup menghasilkan reaksi dan (b) energi tidak cukup tidak
menghasilkan reaksi.
|
Bila gerakan molekul AB dan C lambat, maka tidak akan terjadi ikatan antara
B dan C saat bertumbukan. Akibatnya, keduanya terpental tanpa ada perubahan
(Gambar 6(a)). Dengan mempercepat gerakan molekul, maka akan membuat tumpang
tindih B dan C serta membuat ikatan, dan akhirnya terjadi ikatan kimia (Gambar
6(b)).
Dalam suatu reaksi terdapat tiga keadaan yaitu keadaan awal (pereaksi),
keadaan transisi, dan keadaan akhir (hasil reaksi). Keadaan transisi disebut
juga komplek teraktivasi. Pada keadaan ini ikatan baru sudah terbentuk namun ikatan
lama belum putus. Keadaan tersebut hanya berlangsung sesaat dan tidak stabil.
Keadaan transisi ini selalu mempunyai energi lebih tinggi daripada keadaan awal
dan akhir, sedangkan energi keadaan awal dapat lebih tinggi atau lebih rendah
daripada energi keadaan akhir.
Bila keadaan awal lebih tinggi energinya, reaksi mcnghasilkan kalor atau
dinamakan reaksi eksoterm, dan bila yang terjadi adalah sebaliknya, dinamakan
reaksi endoterm. Perhatikan.
Dengan mengetahui teori tumbukan
ini, kalian akan lebih mudah memahami penjelasan tentang faktor-faktor yang
memengaruhi laju reaksi. Percepatan gerakan molekul akan memperbesar
kemungkinan tumbukan efektif karena percepatan gerakan memberikan energi lebih
besar. Percepatan gerakan molekul berarti percepatan laju reaksi. Dengan
dipercepatnya laju reaksi menggunakan salah satu faktor-faktor berikut,
diharapkan energi yang dibutuhkan untuk tumbukan dapat tercukupi sehingga bisa
menghasilkan tumbukan yang efektif. Faktor-faktor tersebut akan segera diuraikan dalam
penjelasan berikut ini.
2.2 Pengaruh Terhadap Konsentrasi Laju Reaksi
Jika konsentrasi suatu larutan makin besar, larutan akan mengandung jumlah
partikel semakin banyak sehingga partikel-partikel tersebut akan tersusun lebih
rapat dibandingkan larutan yang konsentrasinya lebih rendah. Susunan partikel
yang lebih rapat memungkinkan terjadinya tumbukan semakin banyak dan
kemungkinan terjadi reaksi lebih besar. Makin
besar konsentrasi zat, makin cepat laju reaksinya. Perhatikan Gambar 8. tentang
pengaruh konsentrasi berikut.
|
Gambar
8. (a) tumbukan yang terjadi pada konsentrasi kecil, (b) tumbukan yang
terjadi pada konsentrasi besar.
|
Apabila dibuat sebuah grafik yang
menunjukkan hubungan antara konsentrasi dengan laju reaksi, maka dihasilkan
grafik seperti pada Gambar 9. Grafik menunjukkan bahwa semakin besar
konsentrasi, semakin cepat pula laju reaksinya.
2.3 Pengaruh Luas Terhadap Laju Reaksi
Pada saat zat-zat pereaksi bercampur, maka akan terjadi tumbukan antar
partikel pereaksi di permukaan zat. Laju reaksi dapat diperbesar dengan
memperluas permukaan bidang sentuh zat yang dilakukan dengan cara memperkecil
ukuran zat pereaksi. Perhatikan Gambar 10.
Semakin luas permukaan bidang sentuh
zat, semakin besar laju reaksinya, seperti yang ditunjukkan oleh grafik
hubungan luas permukaan dengan laju reaksi pada Gambar 11.
2.4 Pengaruh Suhu terhadap Laju
Reaksi
Partikel-partikel dalam zat selalu bergerak. Jika suhu zat dinaikkan, maka
energi kinetik partikel-partikel akan bertambah sehingga tumbukan antar
partikel akan mempunyai energi yang cukup untuk melampaui energi pengaktifan.
Hal ini akan menyebabkan lebih banyak terjadi tumbukan yang efektif dan
menghasilkan reaksi (Gambar 12).
|
Gambar
12. (a) tumbukan antarpartikel pada suhu rendah, (b) tumbukan
antarpartikel pada suhu tinggi.
|
Pada umumnya, setiap kenaikan suhu
sebesar 10 oC, reaksi akan berlangsung dua kali lebih
cepat. Dengan demikian, apabila laju reaksi awalnya diketahui, kita dapat
memperkirakan besarnya laju reaksi berdasarkan kenaikan suhunya. Lebih
mudahnya, lihat perumusan berikut.
Karena besarnya laju berbanding
terbalik dengan waktu yang ditempuh, maka perumusan di atas dapat dituliskan
sebagai berikut.
Keterangan :
∆r = kenaikan laju reaksi
∆T = kenaikan suhu = T2 –T1
T2 = suhu akhir
T1 = suhu awal
t0 = waktu reaksi awal
tt = waktu reaksi akhir
Agar lebih memahami perumusan di atas, perhatikanlah contoh soal berikut.
Contoh Soal Pengaruh Suhu terhadap
Laju Reaksi (4) :
Suatu reaksi berlangsung dua kali lebih cepat setiap suhu dinaikkan
10 oC . Apabila
pada suhu 25 oC laju reaksi suatu reaksi adalah 2y M/s. Berapa laju reaksi pada suhu
75 oC?
Penyelesaian :
Diketahui
∆r = 2
T1 = 25 °C
T2 = 75 °C
Ditanyakan:
rt = .... ?
Jawab:
= (2)50/10 x 2y
= 25 x 2y = 32 . 2y
= 64y
Jadi, laju reaksinya adalah 64y.
Untuk lebih mudahnya, dapat kita
buat dalam bentuk tabel.
|
Suhu (°C)
|
25
|
35
|
45
|
55
|
65
|
75
|
|
Laju reaksi (M/s)
|
2y
|
4y
|
8y
|
16y
|
32y
|
64y
|
Jadi, laju reaksinya sama, yaitu
64y.
Apabila pengaruh suhu terhadap laju
reaksi ini dibuat grafik, akan tampak seperti pada Gambar 13. Dari grafik
tersebut dapat disimpulkan bahwa makin tinggi suhu, laju reaksi semakin besar.
2.5 Pengarus Katalis terhadap Laju Reaksi
Reaksi yang berlangsung lambat dapat dipercepat dengan memberi zat lain
tanpa menambah konsentrasi atau suhu reaksi. Zat tersebut disebut katalis.
Katalis dapat mempercepat laju reaksi, tetapi tidak mengalami perubahan kimia
secara permanen sehingga pada akhir reaksi zat tersebut dapat diperoleh
kembali.
Fungsi katalis dalam reaksi adalah menurunkan energi aktivasi sehingga
jumlah molekul yang dapat melampaui energi aktivasi menjadi lebih besar. Gambar
14 menunjukkan peranan katalis dalam menurunkan energi aktivasi.
|
Gambar 14. Diagram energi potensial reaksi tanpa
katalis dan dengan katalis. Energi aktivasi reaksi dengan katalis (EaK) lebih
kecil dari reaksi tanpa katalis.
|
Katalis memiliki beberapa sifat, di antaranya:
1 Katalis tidak bereaksi secara permanen.
2. Jumlah katalis yang diperlukan dalam reaksi sangat sedikit.
3. Katalis tidak mempengaruhi hasil
reaksi.
4. Katalis tidak memulai suatu
reaksi, tetapi hanya mempengaruhi lajunya.
5. Katalis hanya bekerja efektif
pada suhu optimum, artinya di atas atau di bawah suhu tersebut kerja katalis
berkurang.
6. Suatu katalis hanya mempengaruhi
laju reaksi secara spesifik, artinya suatu katalis hanya mempengaruhi laju satu
jenis reaksi dan tidak dapat untuk reaksi yang lain.
7. Keaktifan katalis dapat
diperbesar oleh zat lain yang disebut promotor.
8. Hasil suatu reaksi dapat
bertindak sebagai katalis, sehingga zat tersebut disebut autokatalis.
9. Katalis dalam senyawa organik disebut enzim.
10. Terdapat katalis yang dapat memperlambat suatu reaksi, sehingga katalis
itu disebut katalis negatif atau inhibitor.
Berdasarkan wujudnya, katalis dapat
dibedakan dalam dua golongan, yaitu:
1. Katalis homogen adalah katalis
yang mempunyai wujud sama dengan pereaksi. Katalis ini dapat berada dalam dua
wujud:
a. dalam wujud gas, contoh:
|
NO(g)
|
||
|
2CO(g) + O2(g)
|
→
|
2CO2(g)
|
b. dalam wujud larutan, contoh:
|
H+
|
||
|
C12H22O11(aq)
+ H2O(l)
|
→
|
C6H12O6(aq)
+ C6H12O6(aq)
|
2. Katalis heterogen adalah katalis yang mempunyai wujud berbeda
dengan pereaksi. Biasanya katalis ini berwujud padat dan pereaksinya cair atau
gas. Contohnya:
|
Fe(s)
|
||
|
N2(g) + 3H2(g)
|
→
|
2NH3(g)
|
|
Ni(s)
|
||
|
C2H4(g) + H2(g)
|
→
|
C6H6(g)
|
Beberapa faktor yang memengaruhi laju reaksi telah usai kalian pelajari.
Untuk menganalisis lebih dalam kecenderungan peranan masingmaing faktor,
lakukanlah aktivitas berikut.
Pratikum Kimia Menganalisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi
A. Dasar Teori
Suatu reaksi kimia berlangsung apabila terjadi tumbukan yang efektif antar
partikel pereaksi. Cepat lambatnya suatu reaksi kimia dinyatakan dengan laju
reaksi. Kecepatan laju reaksi ini dapat dikendalikan karena ada beberapa faktor
yang memengaruhinya, yaitu konsentrasi pereaksi, luas permukaan partikel dari
pereaksi, suhu saat reaksi, dan keberadaan katalis.
Konsentrasi pereaksi sebanding dengan laju reaksi. Artinya, semakin besar
konsentrasi pereaksi, maka laju reaksi akan semakin cepat. Begitu pula dengan
luas permukaan dari partikel-partikel pereaksi. Semakin luas permukaan
partikelnya, maka semakin cepat laju reaksinya. Mengenai suhu saat reaksi juga
sebanding dengan laju reaksi. Jadi,
semakin tinggi suhu reaksi, maka laju reaksinya semakin cepat. Adapun
keberadaan katalis akan mempercepat laju reaksi tanpa bereaksinya katalis
tersebut.
Sumber : Syukri S, 1999, hlm. 472,
495, 502 (dengan pengembangan)
B. Tujuan Percobaan
1. Mengetahui pengaruh konsentrasi pada laju reaksi.
2. Mengetahui pengaruh luas permukaan pada laju reaksi.
3, Mengetahui pengaruh suhu pada laju reaksi.
4. Mengetahui pengaruh katalis pada laju reaksi penguraian H2O2 .
C. Alat dan Bahan Percobaan
Alat :
- tabung reaksi
- stop watch
- gelas kimia
- alat pemanas
- termometer
- gelas ukur
- kertas kosong yang diberi tanda silang (X)
Bahan :
- pita magnesium
- batu pualam, CaCO3 (bongkahan dan serbuk)
- larutan HCI 1M, 2M, 3M
- larutan Na2S2O3 0,1M
- larutan hydrogen peroksida (H2O2)
5%
- larutan besi (III) klorida (FeCI3)
0,1M
- larutan natrium klorida (Nod) 0,1M
D. Langkah Percobaan
1. Mengetahui pengaruh konsentrasi pada laju reaksi
a. Isilah 3 buah tabung reaksi
masing-masing dengan 10 mL HCI 1 M, 10 mL HCI 2 M, dan 10 mL HCI 3 M.
b. Masukkan 1 cm pita magnesium ke
tabung 1 dan catat waktunya mulai dari pita Mg dimasukkan sampai pita Mg habis
bereaksi.
c. Ulangi langkah b untuk tabung 2 dan 3.
2. Mengetahui pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi
a. Isilah 2 tabung reaksi masing-masing dengan 10 mL HCI 2 M.
b. Masukkan 1 g serbuk CaCO3 ke dalam tabung dan catat waktunya mulai CaCO3 dimasukkan
sampai CaCO3 habis
bereaksi dengan HCI.
c. Masukkan 1 g bongkahan CaCO3 ke dalam tabung dan catat waktunya mulai dari CaCO3 dimasukkan sampai CaCO3 habis
bereaksi dengan HCI.
3. Pengaruh suhu terhadap laju
reaksi
a. Isilah 4 gelas kimia
masing-masing dengan 20 mL larutan Na2S2O3 . Ukurlah
suhunya masing-masing.
b. Letakkan gelas 1 di atas kertas bertanda silang. Masukkan 10 mL HCl 1 M
dalam gelas kimia. Catat waktu saat HCl dimasukkan dalam gelas kimia sampai
tanda silang pada kertas tidak kelihatan dari atas gelas.
c. Panaskan gelas 2, 3, dan 4 di atas pemanas sampai suhu larutan naik
10 oC (gelas 2), 20 oC (untuk gelas
3), dan 30 oC (untuk gelas 4). Turunkan gelas dari pemanas
dan letakkan di atas kertas bertanda silang. Segera masukkan 10 mL HCl 1M ke
dalam gelas dan catat waktu mulai dari HCl dimasukkan sampai tanda silang pada
kertas tidak kelihatan dari atas gelas.
4. Pengaruh katalis terhadap laju reaksi H2O2
a. Isilah 3 buah gelas kimia masing-masing dengan 50 mL H2O2
b. Gelas 1 dibiarkan saja.
c. Pada gelas 2, tambahkan 20 tetes NaCl.
d. Pada gelas 3, tambahkan 20 tetes FeCI3.
e. Amati reaksi yang terjadi pada
setiap gelas dan catat hasilnya.
Tabel 1. Pengaruh Katalis terhadap Laju Reaksi
|
Tabung reaksi
|
Pita Mg
|
Konsentrasi HCl
|
Waktu (s)
|
|
1
|
1 cm
|
1 M
|
|
|
2
|
1 cm
|
2 M
|
|
|
3
|
1 cm
|
3 M
|
Tabel 2. Pengaruh Luas Permukaan
terhadap Laju Reaksi
|
Tabung
|
CaCO3 1 gram
|
Konsentrasi HCl
|
Waktu (s)
|
|
1
|
serbuk
|
2 M
|
|
|
2
|
bongkahan
|
2 M
|
Tabel 3. Pengaruh Suhu terhadap Laju Reaksi
|
Gelas Kimia
|
Suhu ( C)
|
V HCl 2 M
|
V Na2S2O3 0,1 M
|
Waktu (s)
|
|
1
|
x =
|
10 mL
|
20 mL
|
|
|
2
|
x + 10 =
|
10 mL
|
20 mL
|
|
|
3
|
x + 20 =
|
10 mL
|
20 mL
|
|
|
4
|
x + 30 =
|
10 mL
|
20 mL
|
Tabel 4. Pengaruh Katalis terhadap Laju Reaksi
|
Gelas Kimia
|
Larutan
|
Pengamatan
|
|
1
|
H2O2
|
|
|
2
|
H2O2 + NaCI
|
|
|
3
|
H2O2 + FeCI,
|
F. Pembahasan
Buatlah pembahasan tentang hasil
percobaan dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut.
1. Mengetahui pengaruh konsentrasipada laju reaksi.
a. Reaksi pada tabung mana yang
paling cepat?
b. Reaksi pada tabung mana yang
paling lambat?
c. Mengapa kecepatan reaksi keduanya berbeda?
d. Tentukanlah variabel bebas dan variabel kontrolnya.
e. Buatlah grafik fungsi konsentrasi vs waktu dari hasil percobaan kalian.
2. Mengetahui pengaruh luas permukaan pada laju reaksi.
a. Reaksi pada tabung manakah yang lebih cepat selesai?
b. Faktor apakah yang mempengaruhi
cepat lambatnya reaksi-reaksi tersebut?
c. Tentukanlah variabel bebas dan variabel kontrolnya.
d. Buatlah grafik fungsi antara bentuk partikel zat vs waktu dari hasil
percobaan kalian.
3. Mengetahui pengaruh suhu pada laju reaksi.
a. Reaksi pada gelas manakah yang lebih cepat menghasilkan endapan
belerang? (ditandai dengan larutan yang keruh dan tanda silang tidak kelihatan)
b. Faktor apa yang mempengaruhi
cepat lambatnya reaksi?
c. Tentukanlah variabel bebas dan variabel kontrolnya.
d. Buatlah grafik fungsi suhu Vs waktu dari hasil percobaan.
e. Berapa kalikah laju reaksi pada tabung 2 dibandingkan dengan tabung 1?
4. Mengetahui pengaruh katalis pada laju reaksi.
a. Apa yang terjadi pada gelas kimia 1, 2, dan 3?
b. Apa yang berperan sebagai katalis?
G. Kesimpulan
Buatlah kesimpulan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dan
kecenderungan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap laju reaksi.
C Persamaan Orde Reaksi dengan Reaksi
Laju reaksi dalam suatu reaksi sangat bergantung pada konsentrasi pereaksi.
Besarnya laju reaksi akan berkurang karena konsentrasi pereaksi makin kecil.
Hubungan antara konsentrasi pereaksi dan laju reaksi tersebut dinyatakan dalam
persamaan reaksi. Bagaimana kita menuliskan persamaan laju reaksi? Pelajari persamaan
laju reaksi dan orde reaksi berikut.
3.1 PersamaanLaju Reaksi
Persamaan laju reaksi hanya dipengaruhi oleh konsentrasi pereaksi. Untuk
reaksi secara umum:
pA + qB → rC + sD
maka laju reaksinya ditulis :
r = k [A]m [B]n
Dalam rumusan tersebut, r merupakan
laju reaksi dengan satuan mol/Ls atau M/s, k adalah konstanta laju reaksi,
lambang [A] dan [B] merupakan konsentrasi molar zat A dan B, sedangkan pangkat m
dan n merupakan angka-angka bilangan bulat ( 0, 1, 2,...) dan disebut sebagai
orde reaksi atau tingkat reaksi. m merupakan orde reaksi terhadap A, n orde
reaksi terhadap B, dan m + n merupakan orde reaksi total. Besarnya m dan n tersebut tidak
berhubungan dengan koefisien reaksi. Jika ternyata besarnya sama, maka itu
suatu kebetulan saja karena orde reaksi hanya dapat ditentukan dan data
percobaan.
Contoh beberapa persamaan reaksi dan cara menuliskan persamaan laju
reaksinya serta tingkat reaksinya dapat dilihat pada Tabel 1.
3.2 penentukan LajuReaksi
Pada Tabel 1. terlihat bahwa tingkat (orde) reaksi tidak berhubungan dengan
koefisien pereaksi. Adapun langkah-langkah dalam penulisan persamaan laju
reaksi dan pencntuan orde reaksinya adalah sebagai berikut.
Langkah pertama, menuliskan persamaan laju reaksi secara umum, disesuaikan
dengan jumlah pereaksinya.
Jika pereaksinya tunggal :
A → hasil, maka, v = k[A]m
Jika pereaksinya dua : A +
B → hasil, maka, v = k[A]m [B]n
Jika pereaksinya tiga : A + B +
C→ hasil, maka, v = k [A]m[B]n[C]°
Langkah kedua, menentukan m, n, dan o dari data percobaan. Untuk menentukan
orde reaksi, perhatikanlah contoh berikut.
Contoh Soal Orde Reaksi (5) :
Dalam ruang tertutup, direaksikan gas SO2 dan gas H2 dengan
persamaan reaksi berikut.
SO2(g) + 2 H2(g) → S(s)
+ 2 H2O(g)
Berikut adalah data yang diperoleh
dari percobaan.
|
Percobaan
|
[SO2] M
|
[H2] M
|
r (M/s)
|
|
1
|
0,03
|
0,12
|
1 x 10–2
|
|
2
|
0,06
|
0,12
|
2 x 10–2
|
|
3
|
0,06
|
0,24
|
8 x 10–2
|
Tentukanlah:
a. Persamaan laju reaksinya
b. Konstanta laju reaksinya
Jawaban :
Penulisan persamaan laju reaksinya: r = k[SO2]m
[H2]n
Untuk menentukan m dan n dapat dilakukan beberapa cara, yaitu:
Cara 1 :
a. Menentukan orde reaksi terhadap SO2 atau m. Kita ambil data pada
konsentrasi H2 yang
konstan, yaitu data 1 dan 2.
|
Percobaan
|
[SO2]
M
|
v (M/s)
|
|
1
|
0,03
|
1 x 10–2
|
|
2
|
0,06
|
2 x 10–2
|
Pada data tersebut, jika [SO2] dinaikkan 2 kali ternyata laju reaksi juga naik 2 kali.
Jadi laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi A, ditulis r = k [A].
Konsentrasi A berpangkat satu atau orde reaksi terhadap A adalah 1. Jika dibuat
grafik fungsi laju reaksi terhadap [A], maka grafiknya berupa garis lurus,
seperti terlihat pada Gambar 18.
b. Menentukan orde reaksi
terhadap H2 atau n. Kita ambil data pada konsentrasi SO2 yang konstan, yaitu data 2 dan 3.
|
Percobaan
|
[H2]
M
|
v (M/s)
|
|
2
|
0,12
|
2 x 10–2
|
|
3
|
0,24
|
8 x 10–2
|
Dari data tersebut, jika [H2]
dinaikkan 2 kali ternyata laju reaksinya naik 4 kali. Jadi, laju reaksi berbanding lurus
dengan konsentrasi H2 pangkat 2, ditulis r = k [H2]2. Grafik
fungsi laju reaksi terhadap [B] berupa parabola, seperti tampak pada Gambar 19.
c. Selanjutnya, persamaan laju
reaksi secara keseluruhan dituliskan: r = k [A] [B]2. Orde
reaksi totalnya adalah m + n yaitu 1 + 2 = 3.
Cara 2 :
Cara yang kedua ini dilakukan dengan
membandingkan persamaan reaksi pada data satu dengan data lainnya. Berikut
penyelesaiannya.
a. Menentukan orde reaksi
terhadap SO2 pada
data [H2] yang konstan, yaitu data 2 dan 1.
Jadi, orde reaksi terhadap SO2 adalah 1.
b. Menentukan orde reaksi
terhadap H2 pada data [SO2] yang
konstan, yaitu data 3 dan 2.
Jadi, orde reaksi terhadap hidrogen
adalah 2.
c. Persamaan laju reaksinya adalah r
= k [SO2] [H2]2
Untuk menentukan harga k dapat
digunakan salah satu data, kemudian dimasukkan dalam persamaan laju reaksi yang
sudah dituliskan tersebut. Misalnya kita ambil data 1.
r1 = k [SO2]
[H2]2
1 x 10–2 M/s = k (0,03 M)
(0,12 M)2
1 x 10–2 M/s = 4,32 x l0–4
k M–3
k =
k = 23,15 M-2/s
Jadi, konstanta laju reaksinya
adalah 23,15 M-2/s.
D Penerapan Reaksi
Kalian pernah melarutkan gula dalam
air bukan? Mungkin sewaktu
kalian membuat teh manis, kopi, atau minuman lainnya. Bagaimana kira-kira larutnya gula dalam air jika yang
dilarutkan bongkahan gula batu atau serbuk? Tentulah lebih cepat larut yang
dalam bentuk serbuk. Itulah pengaruh luas permukaan pada laju reaksi yang kita
jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bidang industri, reaksi-reaksi yang terjadi selalu
diusahakan berlangsung lebih cepat. Faktor laju reaksi yang sering digunakan
adalah katalis. Seperti yang telah kalian pelajari tentang uraian katalis di
depan, katalis merupakan zat yang mempercepat laju reaksi tetapi pada akhir
reaksi didapatkan kembali seperti semula. Contoh industri yang menggunakan
katalis adalah pembuatan amonia (NH3) dan asam sulfat (H2SO4).
Amonia
merupakan bahan untuk membuat asam nitrat, pupuk, dan bahan peledak. Proses
pembuatan amonia dikenal dengan nama Proses Haber-Bosch sesuai dengan nama
penemunya, yaitu Fritz Haber dan Karl Bosch. Reaksi pembuatan amonia dari gas
nitrogen dan gas hidrogen sebagai berikut:
N2(g) + 3 H2(g) ↔ 2 NH3(g)
∆H= - 92kJ/mol
Ternyata reaksi tersebut sangat lambat pada suhu kamar,
sehingga perlu dilakukan usaha-usaha untuk mempercepat laju reaksinya. Usaha
itu harus dilakukan agar segera didapatkan hasil sebanyak-banyaknya dalam waktu
sesingkat-singkatnya, sesuai prinsip ekonomi. Salah satu usaha yang dilakukan
adalah dengan menambahkan katalis besi. Pada proses pembuatan asam sulfat yang
sering dikenal dengan nama proses kontak, juga diperlukan katalis yaitu
Vanadium pentoksida, V2O5.
No comments:
Post a Comment